Pemikiran Pasca-Kristen
Moralitas dalam Guncangan
Pada bab ini penulis sedang memaparkan isi dari sebuah artikel yang ia baca pada halaman depan surat kabar The Times. Artikel ini diberi judul “Nilai-nilai Keluarga Baru”. Artikel ini mengatakan bahwa moralitas pada masa lalu bersifat angkuh dan kadang penuh prasangka. Hal inilah yang dipertanyakan oleh Harry Blamires bahwa jika moralitas pada masa lalu bersifat angkuh dan penuh prasangka, berarti pengajaran dari orangtua, sekolah, gereja, dan keluarga yang telah diterima oleh generasi sekarang adalah salah. Apakah kita semua telah dicuci otak sehingga menerima moralitas yang angkuh masa lalu. Apakah orangtua kita begitu tersesat sehingga berpikiran bahwa kaum wanita yang membesarkan anak-anak mereka tanpa menikah adalah salah, nenek moyang kita begitu sangat salah sehingga meyakini praktik homoseksual sebagai hal yang imoral? Sehingga generasi zaman sekarang menganggap hal itu sebagai moralitas dan melakukannya dengan sungguh.
Penulis artikel tersebut mengatakan bahwa terlalu angkuh mengatakan bahwa praktik homoseksual adalah “salah”, tetapi tepat jika menyebutnya “kurang bijak”. Jelas bahwa pemikiran pasca-Kristen sedang ingin memisahkan moralitas dengan relasi antar-manusia. Orang pasca-Kristen tidak bisa “berdosa”, mereka hanya bertindak “kurang bijak”. Menurut buku yang saya baca ini, Harry Blammires sedang mengatakan bahwa ketika kita mengambil sebuah keputusan yang “kurang bijak”, berarti kita sudah membuat keputusan yang “salah”. Artinya bahwa tidak ada moralitas yang “angkuh” jika mengatakan bahwa orangtua tunggal atau praktik homoseksual adalah salah (hal. 58).
Dalam artikel “ Nilai-nilai Keluarga Baru”, penulis sedang ingin mengatakan bahwa standar yang dipakai untuk mengukur akibat dari perilaku adalah batasan-kerusakan sosial. Menurutnya problem perilaku sosial diakibatkan oleh kerusakan sosial dan bukannya imoralitas. Tidak ada sedikitpun jejak moralitas yang dipakai untuk mengukur perilaku manusia. Hal ini jelas bertentangan dengan moralitas Kristen. Moralitas Kristen tradisional didasarkan pada doktrin kehendak bebas yang menuntut seseorang bertanggung jawab atas tindakannya. Pemikiran pasca-Kristen nampaknya memperbolehkan untuk ”menyesali” akibat dari perilaku salah manusia, tetapi tidak menerima adanya tanggung jawab moral manusia atas apa yang telah mereka lakukan. Ini merupakan penyangkalan yang implisit terhadap kehendak bebas, manusia seolah-olah diperlakukan sebagai robot.
Implikasi
Media seolah mempengaruhi generasi zaman sekarang untuk mencari perkembangan baru dan mengikuti gaya yang ada, menganggap bahwa hal tersebut merupakan aspek pendidikan yang sehat. Kaum muda awalnya belajar dari orang yang lebih tua , mewarisi nilai dan selera sebagaimana mereka mewarisi bahasa yang mereka pakai. Namun, ciri khas Pemikiran pasca-Kristen adalah mereka yang berusia matang terlalu takut untuk mewarisi nilai-nilai yang telah mereka petik manfaatnya kepada kaum muda. Peradaban memang tidak akan maju tanpa perubahan ke arah yang baik. Tetapi, peradaban akan mundur jika perubahan bergerak ke arah yang lebih buruk. Saya rasa, sekarang ini kualitas kehidupan orang Kristen sedang bergerak ke barah yang kedua. Terlalu banyak imoralitas yang terjadi.
Comments
Post a Comment