Pemikiran Pasca-Kristen
Keluarga
Pada bab ini penulis memaparkan beberapa masalah pandangan atau pemahaman tentang keluarga Pasca-Kristen. Penulis tidak sedang menuliskan tentang pemikiran orang Kristen tentang keluarga, tetapi sedang memberitahu dan mengajak pembaca mengenai perlawanan terhadap wawasan Kristen khususnya tentang keluarga. Harry Blamires mendefinisikan keluarga sebagai “kelompok yang terdiri dari orangtua dan anak-anak mereka” (hal. 21). Sampai awal abad ke-20 kecukupan definisi ini tidak dipertanyakan lagi. Walaupun terdapat banyak janda setelah Perang Dunia 1 yang berjuang untuk memelihara anak-anak mereka yang yatim, ungkapan “keluarga dengan orangtua tunggal”, “keluarga dengan satu orangtua” tetap tidak dipakai. Jika demikian akan timbul satu pertanyaan, “apakah yang menjadi norma di sini?” sehingga mereka berani mengatakan demikian. Jika kita memisah-misahkan istilah keluarga seperti di atas, kita sedang mengubah norma menjadi varian untuk menghancurkan standar. Jika proporsi keluarga berorang tua tunggal sudah mencapai titik yang membuat kita perlu untuk memakai ungkapan “keluarga dengan dua orang tua” guna membedakan satu jenis keluarga dengan keluarga yang lain, maka definisi “keluarga” yang dipaparkan penulis di atas akan lenyap. Kelompok yang terdiri dari “orangtua dan anak-anak mereka” tidak akan lagi menjadi standar norma. Sebaliknya, definisi keluarga akan menjadi kelompok yang terdiri dari orangtua (tunggal/sepasang) dengan anak-anaknya atau anak-anak mereka.
Pihak-pihak di dalam masyarakat yang begitu ingin menghancurkan norma dan merelatifkan standar. Norma-norma yang ada seharusnya ditaati dengan sungguh, justru dibenci karena dianggap menyerang pemikiran zaman sekarang. Sayangnya, pemikiran Pasca-Kristen begitu terobsesi dengan hal ini. Norma “ini” dan “itu” dianggap sebagai tantangan. Konsep mengenai keluarga yang sebelumnya diterima harus diganti dengan konsep yang lebih encer, yang merangkul semua bentuk variasi (hal. 24). Proses penghancuran standar sangat didasarkan pada kata-kata yang bersifat melawan. Orang-orang mungkin tidak secara terbuka menyatakan perang terhadap keluarga. Serangannya lebih kepada tetap memelihara dan memakai kata keluarga tetapi menghancurkan maknanya. Keluarga merupakan kumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama tempat tinggal, kasih sayang, dan kehangatan. Pemikiran Pasca-Kristen menggunakan cara untuk merusak konsep “keluarga” dengan mengambil alih konsep di atas dan menyangkalnya. Mereka membuat apa yang selama ini dikenal sebagai “keluarga” menjadi sebuah varian yang berbeda. Dan apa yang dulunya tidak kita sebut sebagai keluarga telah disebut “keluarga”. Misalnya sepasang lesbian yang menikah dan membesarkan seorang anak yang diperoleh dari bayi tabung, atau seorang wanita yang tidak menikah dan mengadopsi anak dan membesarkannya seorang diri juga disebut keluarga. Mereka telah mengubah norma dan berasumsi bahwa terdapat varian keluarga yang lain.
Keluarga dalam guncangan
Pemikiran Pasca-Kristen dengan jelas diarahkan untuk menghancurkan masyarakat dunia Kristen. Salah satu struktur sosial yang krusial dari peradaban kita adalah keluarga monogami. Seorang wanita tengah tersenyum bahagia saat hari pernikahannya dalam sebuah surat kabar. Wanita yang diketahui selebriti ini ternyata telah menikah untuk ketiga kalinya. Dalam hal ini media sangat berperan di sini. Para pembaca telah dicuci otak untuk menerima hal seperti ini—mengingat sang selebriti adalah “model peran” yang dikagumi banyak orang. Kampanye seperti inilah yang didukung surat kabar. Orang-orang dulu dididik oleh orang tua, gereja, sekolah bahwa pernikahan adalah tentang komitmen seumur hidup. Namun sekarang mereka dibujuk oleh surat kabar dan media lainnya untuk ikut merasakan bahkan menyetujui kebiasaan amoral yang dilakukan idola mereka di dunia hiburan—mengingat orang-orang zaman sekarang telah begitu mendapat makanan moral dan intelektual dari sumber-sumber lain, bukan hanya dari orang, gereja, dan sekolah.
Orang Kristen seringkali mengalami kesulitan dalam hal di atas. Karena menegaskan kesetiaan di dalam pernikahan dan pemeliharaan keluarga bisa dengan mudah dikatakan angkuh. Ditambah lagi mereka sedang menghadapi propaganda dari media yang tidak pernah berhenti. Orang Kristen yan sejati tidak mungkin begitu saja membiarkan pengabaian pernikahan dan keluarga seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Merendahkan pernikahan berarti juga merendahkan nilai kesetiaan manusia. Dalam pemikiran Pasca-Kristen, memelihara janji setia dalam pernikahan sudah dianggap sebagai isu sampingan, dan hal ini mengakibatkan penderitaan yang setimpal.
Bagi saya, mungkin tidak semua hal yang dibicarakan penulis—Harri Blamires terlihat relevan dengan kehidupan kita di Indonesia. Tetapi zaman sekarang ini teknologi sudah semakin maju, budaya barat begitu dengan gampang masuk ke Indonesia. Oleh karena itulah saya membaca buku ini sebagai antisipasi—kemungkinan terjadi di Indonesia. Akan lebih baik mencegah daripada mengobati.
Comments
Post a Comment