Ulasan Buku The Sovereignty of God - BAB 1-3 "Apakah Allah Berdaulat Atas Bumi?"

Kaum materialisme-naturalisme kurang meyakini bahwa Allah berdaulat atas dunia. Mereka menyangkal bahwa Allah menciptakan segala sesuatu melalui tindakan personal dan langsung, dan hanya sedikit yang meyakini bahwa Allah memiliki kepentingan langsung dalam mengatur buatan tangan-Nya itu. Saya berani mengambil kesimpulan seperti ini karena berdasarkan bacaan dalam buku The Sovereignty of God karya Arthur W. Pink mengatakan demikian : banyak ketidakpastian dan kekacauan di mana-mana. Tak seorangpun dapat memperkirakan bilamana perang besar akan berkecamuk. Orang-orang akan mati ketakutan karena kecemasan terhadap segala apa yang akan menimpa bumi ini (hal.2)

Pada halaman selanjutnya, saya mendapat penjelasan mengenai pernyataan yang saya tulis pada poin pertama. Bahwa di zaman sekarang ini adalah zaman pencemooh, roh pemberontak dengan cepat melanda bumi ini bagaikan sebuah gelombang raksasa. Generasi sekarang adalah generasi pencemooh yang paling berani. Dengan menghilangnya otoritas orang tua, maka sikap merendahkan hukum manusia semakin meningkat. Maka tidak heran jika sikap tidak percaya dan penyangkalan atas kemuliaan, otoritas, serta kedaulatan Sang Pemberi Hukum Tertinggi semakin merajalela.

Poin berikutnya, pemahaman saya semakin diperjelas dengan penegasan bahwa Allah adalah Tuhan atas segala semesta, Raja atas segala raja, bahwa lambang kekuasaan ada di tangan-Nya. Oleh karena itu, Allah bukan hanya menciptakan segala sesuatu namun Dia juga berdaulat dalam memerintah segala sesuatu. Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah “Yang Maha Tinggi”, Yang Esa dan Berdaulat, Raja atas segala raja yang memiliki hikmat dan kuasa yang tak terbatas maka tak dapat diingkari bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu yang terjadi di bumi.

Makna Kedaulatan Allah

Kalau begitu apa sesungguhnya makna kedaulatan Allah? Inilah yang menjadi inti perenungan saya pada poin berikutnya. Buku ini mengatakan bahwa dunia zaman sekarang yang penuh dengan kegagalan menawarkan Allah yang berbeda dengan Alkitab. Mereka sering memakai segala bentuk kekacauan di dunia untuk mengatakan bahwa Allah gagal memelihara ciptaan-Nya. Menyatakan bahwa Allah “kaget” terhadap peristiwa yang terjadi di taman eden. Hal ini berarti menurunkan “Yang Maha Kuasa” menjadi selevel dengan manusia yang fana. Buku ini membantu saya menemukan makna kedaulatan Allah yang sebenarnya. Yang berbeda dengan apa yang dunia berikan.

Ungkapan kedaulatan Allah bermakna kekuasaan tertinggi Allah, keberkuasaan Allah, serta keilahian Allah. Kedaulatan Allah menurut kitab suci bersifat mutlak dan tak terbatas. Ketika mengatakan Allah berdaulat, sebenarnya kita sedang menegaskan peranan-Nya dalam memelihara ciptaan-Nya. Kita sedang menegaskan bahwa Allah berdaulat berarti Dia tidak dibatasi oleh otoritas hukum atau peraturan manapun kecuali oleh keberadaan dan kehendak-Nya sendiri. Poin yang paling penting menjadi bahan perenungan saya di sini adalah bahwa kedaulatan Allah melingkupi segala aspek. Dia berdaulat dalam menjalankan kuasa-Nya, berdaulat dalam mendelegasikan kuasa-Nya kepada manusia. Allah juga berdaulat dalam melaksanakan kemurahan anugerah-Nya. Catatan yang paling menonjol adalah tentang anugerah Ilahi yang dinyatakan pada saat kelahiran Juruselamat. Inkarnasi Anak Allah menjadi lambang dari kedaulatan Allah pada rencana keselamatan dalam anugerah-Nya yang tak terbatas. Allah berdaulat dalam menjalankan anugerah-Nya. Kepada orang-orang yang diperkenankan-Nya. Kepada mereka yang dianggap paling tidak berkemungkinan dan dianggap paling tidak berharga.


Comments

Popular posts from this blog

Ulasan Buku "The sovereignity of God BAB 7-10 "

Ulasan Buku The sovereignty of God BAB 4-6 "Kedaulatan Allah dalam memerintah"

Pemikiran Pasca-Kristen