Unipersonalitas Kristus

 Bukti Atribut Keilahian

Orang Kristen yang meyakini bahwa Yesus adalah Allah, seharusnya meyakini bahwa atribut Allah juga melekat pada diri Yesus. Dengan demikian mereka mengatakan bahwa Dia adalah Allah sejati. Alkitab sendiri memberikan bukti-bukti yang mendukung pernyataan tersebut. 

Yesus menyatakan Kemahakuasaan (Omnipotent). Hal ini bisa terlihat dari mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh-Nya. Dalam Matius 8:26-27 yang mana Yesus meredakan badai, mengadakan mujizat lima roti dan dua ikan dalam Matius 14:13-21, mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11) , dan masih banyak lagi membuktikan bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah dan bukan manusia ilahi. Selain itu, Yesus juga menegaskan kekekalan (Yohanes 8:58),  dan Dia pun mengatakan bahwa Dia adalah Alfa dan Omega, Yang awal dan Yang Akhir (Wahyu 22:13).) Dalam Markus 2:8 dan menurut pengakuan Yohanes 2:25, 16:30 mengatakan bahwa Dia Mahatahu (Omniscience). 

Unipersonalitas Kristus

Yesus adalah seorang Pribadi yang memiliki dua natur, Allah dan Manusia yang sejati. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kedua natur tersebut bercampur dan menciptakan natur yang baru. Pandangan lain mengatakan bahwa natur Keilahian Yesus lebih kuat daripada natur manusia-Nya sehingga natur kemanusiaan-nya itu tidak bereksistensi karena ditelan oleh natur Keilahian-Nya yang kuat (Monophysitism). Berbeda dengan paham Monophysitism, kaum Nestorianis mengatakan bahwa Yesus memiliki dua kepribadian. Mereka ingin menegaskan bahwa Allah yang Mahakuasa tidak bisa menderita, sehingga yang menderita di kayu salib adalah pribadi manusia Yesus. Ada pandangan lain lagi yang berbeda dengan kedua pandangan di atas, yaitu paham Docetisme. Mereka ingin menekankan Keilahian sehingga mengatakan bahwa fisik Yesus itu hanyalah sebuah ilusi yang dilihat, bukan tubuh fisik secara nyata. Tidak mungkin Allah yang Ilahi menjadi daging. 

Sebenarnya beberapa paham di atas sedang mencoba memaparkan natur Kristus, entah itu manusia maupun Allah. Tanpa mereka sadari sebenarnya paham itu tidak seimbang, karena jika pribadi Yesus adalah dua natur yang bercampur sehingga menciptakan natur baru, berarti natur Yesus adalah natur yang tidak sempurna baik Keilahian-Nya maupun kemanusiaan-Nya. Kembali lagi ke paham Nestorianisme, jika Allah tidak bisa menderita, dan yang tergantung di kayu salib adalah manusia sejati maka dampaknya adalah Yesus tidak bisa menanggung murka Allah di atas salib, sebab natur dan pribadi manusia-Nya yang lemah tidak akan mampu menanggungnya.

Implikasi  

Kita telah mengetahui atribut Keilahian Yesus melalui bukti yang dipaparkan Alkitab pada kita. Salah satunya adalah ketika Yesus mengadakan mukjizat. Ketika kita menerima mukjizat yang dilakukan Yesus sama halnya dengan kita telah meyakini bahwa Dia adalah Allah dan mengakui bahwa Allah memang berkuasa. 

Yesus memang sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Ketika kita mengetahui hal tersebut dan kita meyakininya, hal tersebut harus diwujudnyatakan dalam tindakan kita. Sudah sepantasnya kita memiliki pengakuan akan hal tersebut, sehingga pada saat kita berada di tempat ibadah, dalam suasana penyembahan kepada-Nya, sikap kita adalah takut dan gentar, kesadaran diri bahwa Dia berkuasa dan kita bergantung penuh pada Dia. Memiliki kesadaran dalam sikap doa kita, hormat. Hati yang hancur, bahwa memang sebagai manusia kita berdosa. Sehingga Dia harus datang ke dalam dunia menjadi manusia dan menebus kita.


Comments

Popular posts from this blog

Ulasan Buku "The sovereignity of God BAB 7-10 "

Ulasan Buku The sovereignty of God BAB 4-6 "Kedaulatan Allah dalam memerintah"

Pemikiran Pasca-Kristen