Posts

Unipersonalitas Kristus

  Bukti Atribut Keilahian Orang Kristen yang meyakini bahwa Yesus adalah Allah, seharusnya meyakini bahwa atribut Allah juga melekat pada diri Yesus. Dengan demikian mereka mengatakan bahwa Dia adalah Allah sejati. Alkitab sendiri memberikan bukti-bukti yang mendukung pernyataan tersebut.  Yesus menyatakan Kemahakuasaan (Omnipotent). Hal ini bisa terlihat dari mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh-Nya. Dalam Matius 8:26-27 yang mana Yesus meredakan badai, mengadakan mujizat lima roti dan dua ikan dalam Matius 14:13-21, mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11) , dan masih banyak lagi membuktikan bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah dan bukan manusia ilahi. Selain itu, Yesus juga menegaskan kekekalan (Yohanes 8:58),  dan Dia pun mengatakan bahwa Dia adalah Alfa dan Omega, Yang awal dan Yang Akhir (Wahyu 22:13).) Dalam Markus 2:8 dan menurut pengakuan Yohanes 2:25, 16:30 mengatakan bahwa Dia Mahatahu (Omniscience).  Unipersonalitas Kristus Yesus adalah seorang Prib...

Pemikiran Pasca Kristen

Keindahan Tubuh Dalam era Pemikiran pasca-Kristen, kebanyakan orang berharap agar lahir dengan jenis kelamin yang berbeda. Tetapi kebanyakan dari mereka juga mungkin berharap agar tubuh mereka juga dibentuk dengan lebih indah. Usia muda adalah waktu yang paling tepat untuk “memperbaiki” penampilan mereka. Obsesi yang lazim dimiliki para wanita untuk memiliki bentuk tubuh langsing sehingga begitu meributkan diet dan berat badan. Pada konteks ini kita tahu kemana kita harus melemparkan kesalahan. Kesalahan terletak pada industri gaya busana dan absurditas fisik feminim yang dicoba untuk dipopulerkan oleh industri tersebut. Kata “absurditas” yang berarti tidak masuk akal tepat dipakai karena patung kurus tanpa bentuk yang menjadi tempat gantungan baju para perancang tidak merepresentasikan keindahan dan kemenarikan wanita ideal yang sudah menjadi mindset orang zaman sekarang.  Kita telah mendengar kasus-kasus tragis dimana para gadis muda menguruskan tubuh mereka sampai mati. Adalah ...

Pemikiran Pasca-Kristen

Moralitas dalam Guncangan Pada bab ini penulis sedang memaparkan isi dari sebuah artikel yang ia baca pada halaman depan surat kabar The Times. Artikel ini diberi judul “Nilai-nilai Keluarga Baru”. Artikel ini mengatakan bahwa  moralitas pada masa lalu bersifat angkuh dan kadang penuh prasangka. Hal inilah yang dipertanyakan oleh Harry Blamires bahwa jika moralitas pada masa lalu bersifat angkuh dan penuh prasangka, berarti pengajaran dari orangtua, sekolah, gereja, dan keluarga yang telah diterima oleh generasi sekarang adalah salah. Apakah kita semua telah dicuci otak sehingga menerima moralitas yang angkuh masa lalu.  Apakah orangtua kita begitu tersesat sehingga berpikiran bahwa kaum wanita yang membesarkan anak-anak mereka tanpa menikah adalah salah, nenek moyang kita begitu sangat salah sehingga meyakini praktik homoseksual sebagai hal yang imoral? Sehingga generasi zaman sekarang menganggap hal itu sebagai moralitas dan melakukannya dengan sungguh.   Penulis a...

Pemikiran Pasca-Kristen

Keluarga  Pada bab ini penulis memaparkan beberapa masalah pandangan atau pemahaman tentang keluarga Pasca-Kristen. Penulis tidak sedang menuliskan tentang pemikiran orang Kristen tentang keluarga, tetapi sedang memberitahu dan mengajak pembaca mengenai perlawanan terhadap wawasan Kristen khususnya tentang keluarga. Harry Blamires mendefinisikan keluarga sebagai “kelompok yang terdiri dari orangtua dan anak-anak mereka” (hal. 21).  Sampai awal abad ke-20 kecukupan definisi ini tidak dipertanyakan lagi. Walaupun terdapat banyak janda setelah Perang Dunia 1 yang berjuang untuk memelihara anak-anak mereka yang yatim, ungkapan “keluarga dengan orangtua tunggal”, “keluarga dengan satu orangtua” tetap tidak dipakai. Jika demikian akan timbul satu pertanyaan, “apakah yang menjadi norma di sini?” sehingga mereka berani mengatakan demikian. Jika kita memisah-misahkan istilah keluarga seperti di atas, kita sedang mengubah norma menjadi varian untuk menghancurkan standar. Jika proporsi k...

Ulasan Buku "The sovereignity of God BAB 7-10 "

  Kedaulatan Allah dan Doa Berbicara tentang doa, kita sering melakukan doa dengan tujuan mengubah keadaan kita. Maksudnya adalah bahwa Allah akan mengubah keadaan jika kita berdoa. Buku yang saya baca ini mengatakan bahwa faktor manusia mewarnai hampir setiap bagian dalam doa: yakni dalam syarat-syarat yang harus kita penuhi, janji-janji yang harus kita tuntut, hal-hal yang harus kita lakukan agar permintaan kita dikabulkan. Sedangkan tuntutan Allah, hak-hak Allah, dan kemuliaan Allah seringkali kita abaikan (hal. 141). Pernyataan di atas ada benarnya, sebab zaman sekarang ini kemanapun kita pergi, kata “Doa Mengubah Segala sesuatu” dapat dengan gampang kita temui. Moto tersebut bisa bermakna kita harus mengubah Allah agar mengubah rencana-Nya. Padahal segala sesuatu telah ditetapkan Allah sejak awal, apakah dengan berdoa dapat mengubah ketetapan awal Allah?  Penulis buku mengatakan bahwa Allah telah menetapkan tujuan-Nya sejak awal dan telah menetapkan bahwa tujuan tersebut ...

Ulasan Buku The sovereignty of God BAB 4-6 "Kedaulatan Allah dalam memerintah"

Pada bab ini penulis menekankan satu hal dan mengajak pembaca berpikir terbalik. Bayangkan jika Allah memang menciptakan dunia ini, merancang dan menetapkan hu kemudian Allah menarik diri dan membiarkan dunia dan hukum-hukumnya berjalan sendiri. Pastinya akan banyak kekacauan yang terjadi. Apa yang bisa menjamin bahwa dunia kelak tidak akan mengalami kehancuran. Tetapi bagaimana jika kita menjajaki fakta bahwa Allah memerintah dan bahwa pemerintahan-Nya melingkupi segala aspek.  Poin penting yang saya baca di sini adalah berkaitan dengan kedaulatan Allah dalam memerintah benda-benda mati. Dalam kitab kejadian, Allah memerintah terang jadi, maka terang itu jadi. Laut dan daratan dipisahkan-Nya, maka keduanya terpisah. Pada peristiwa sepuluh tulah pun gelap gulita, air berubah menjadi darah, hujan es, semuanya terjadi atas perintah Allah. Pada bagian ini saya merenungi sebuah pertanyaan reflektif bagi saya, jika memang Allah berkuasa atas benda-benda mati karena ada banyak tertulis d...

Ulasan Buku The Sovereignty of God - BAB 1-3 "Apakah Allah Berdaulat Atas Bumi?"

Kaum materialisme-naturalisme kurang meyakini bahwa Allah berdaulat atas dunia. Mereka menyangkal bahwa Allah menciptakan segala sesuatu melalui tindakan personal dan langsung, dan hanya sedikit yang meyakini bahwa Allah memiliki kepentingan langsung dalam mengatur buatan tangan-Nya itu. Saya berani mengambil kesimpulan seperti ini karena berdasarkan bacaan dalam buku The Sovereignty of God karya Arthur W. Pink mengatakan demikian : banyak ketidakpastian dan kekacauan di mana-mana. Tak seorangpun dapat memperkirakan bilamana perang besar akan berkecamuk. Orang-orang akan mati ketakutan karena kecemasan terhadap segala apa yang akan menimpa bumi ini (hal.2) Pada halaman selanjutnya, saya mendapat penjelasan mengenai pernyataan yang saya tulis pada poin pertama. Bahwa di zaman sekarang ini adalah zaman pencemooh, roh pemberontak dengan cepat melanda bumi ini bagaikan sebuah gelombang raksasa. Generasi sekarang adalah generasi pencemooh yang paling berani. Dengan menghilangnya otoritas o...